Perkawinan Adat
Indonesia merupakan negara persatuan dan kesatuan
yang memiliki banyak pulau-pulau serta kekayaan, baik kekayaan alam maupun
kekayaan di dalam masyarakatnya itu sendiri. Kekayaan itu dapat berupa kekayaan
ilmu, pikiran, dan kekayaan adat-istiadatnya.
Indonesia memiliki
semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berasal dari bahasa sansakerta yang
artinya “berbeda-beda tetap satu”. Arti dari kata “berbeda-beda tetap satu”
tersebut memiliki arti yang sangat luas bagi masyarakat indonesia dalam hal
berbeda agama, ras, suku dan adat-istiadatnya, dengan adanya semboyan ini maka
terciptalah suku-suku bangsa yang memiliki adat yang berbeda-berbeda.
Suku-suku bangsa tersebut menghasilkan
keanekaragaman adat yang memiliki hukumnya sendiri dalam menciptakan
kesejahteraan dalam masyarakatnya, dengan adanya hukum adat tersebut maka
adanya beberapa ketentuan adat yang mengatur tentang kehidupan bertetangga,
bergaul, serta dalam hal perkawinan. Dalam masyarakat adat diatur pula tentang
perkawinan dimana setiap suku memiliki aturan dan proses tersendiri dalam
mengadakan dan menjalankan perkawinan.
Dalam perkawinan adat terdapat ritus-ritus daur
hidup yang dijelasakan oleh Van Gennep. Van gennep adalah seorang ahli ilmu
etnografi (etnografer) Perancis dan ahli cerita rakyat yang dikenal karena
kajiannya pada bidang ritual di berbagai kebudayaan. Karya utamanya ialah
"The Rites of Passage" (1909), di mana ia secara sistematis
membandingkan upacara-upacara yang merayakan perubahan seorang individu dari
satu status ke status yang lain dalam suatu masyarakat tertentu.
Van Gennep mengungkapkan ada 3 tahapan dalam ritus
peralihan yaitu:
1. Ritus
pemisahan pra-liminal, dimana seseorang terpisah dari status tetap yang
dimiliki pada struktur sosial sebelumnya,
2. Ritus
perpindahan margin atau batas, yang bermakna subyek ritual dalam keadaan ambigu
karena subyek tidak lagi dalam status lama, tetapi belum masuk status baru,
3. Ritus
inkorporasi pasca-liminal, berarti subyek ritual memasuki status atau keadaan
stabil yang baru dengan menyandang berbagai hak dan kewajiban.
Dalam hal ini Turner mengatakan
liminalitas merupakan tahapan ke-2 dari 3 tahap pendewasaan van Gennep. Keadaan
yang kedua ritus perpindahan merupakan kondisi yang ambigu. Kondisi yang ambigu
ini sering sekali terjadi dalam siklus kehidupan seseorang dan biasanya inilah
masa-masa kritis bagi seseorang.
Van Gennep menganalisa ritus
peralihan pada umumnya berdasarkan data Etnografi dari seluruh dunia. Menurut
Van Gennep ritus dan upacara religi secara universal asasnya berfungsi sebagai
aktifitas untuk menimbulkan kembali semangat kehidupan sosial antar warga
masyarakat.
Perkawinan Adat Jawa
Indonesia memiliki 34 propinsi yang masing-masing
propinsi tersebut memiliki adat-adat tersendiri yang mengatur tentang
perkawinan, dari 34 propinsi yang masing-masing mempunyai ketentuan adat
tersebut salah satunya adalah adat Jawa. Jawa merupakan propinsi yang luas dan
memiliki banyak hukum adat yang mengaturnya, dari Jawa Barat sampai Jawa Timur
semuanya memiiki hukum adat yang mengatur tentang perkawinan adatnya.
Budaya Jawa merupakan salah satu kebudayaan yang
dimiliki bangsa Indonesia yang di dalam tradisinya memiliki nilai-nilai
keluhuran dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Setiap
tradisi dalam masyarakat Jawa memiliki arti dan makna filosofis yang mendalam
dan luhur, yang mana tradisi ini sudah ada sejak zaman kuno saat kepercayaan
masyarakat Jawa masih animisme-dinamisme dan tradisi-tradisi Jawa ini semakin
berkembang dan mengalami perubahan-perubahan seiring masuknya agama Hindu-Budha
hingga Islam ke tanah Jawa.
Dalam arti sempit, tradisi adalah kumpulan benda
material dan gagasan yang diberi makna khusus dan berasxal dari masa lalu. Di
dalam tradisi Jawa tersebut khas dengan adanya sesaji yang dibuat berdasarkan
kegunaan masing-masing yang mempunyai makna dan tujuan berbeda satu sama lain.
Dalam adat istiadat masyarakat Jawa, sesaji atau biasa disebut dengan sajen
adalah sajian yang berupa makanan, hewan atau buah-buahan yang dipersembahkan
kepada arwah leluhur serta kekuatan gaib yang ada dalam upacara yang
diselenggarakan.
Tradisi dalam masyarakat Jawa masih mengenal sesaji.
Bahkan sampai sekarang masih ada banyak masyarakat Jawa yang meneruskan tradisi
sesaji. Namun yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa ini, oleh masyarakat
modern dianggap klenik, mistik, irasional, dan segala jenis sebutan lain yang
di anggap miring atau negatif. Hanya ada beberapa saja yang menganggap sesaji
sebagai manifestasi lain dari sebuah doa.
Ada bermacam-macam sesaji dalam kehidupan masyarakat
Jawa sesuai dengan upacara yang diselenggarakan, salah satunya sesaji dalam
pernikahan adat Jawa. Di dalam sesaji pernikahan sendiri ada empat jenis
sesaji, yaitu: sesaji pasang tarub, sesaji siraman, sesaji midodareni, sesaji
panggih atau temu. Tradisi kuno masyarakat Jawa memiliki tata cara lengkap
dalam pernikahan, sebelum pernikahan, hari pelaksanaan, dan sesudah pelaksanaan
pernikahan. Meskipun zaman semakin berkembang dan mengglobal, namun masih ada
masyarakat Jawa mempunyai kebiasaan untuk tetap mempertahankan tradisi dari
nenek moyang. Setiap sesaji mempunyai makna sendiri-sendiri, bahkan cara
pembuatan dan penyajiannya juga berbeda-beda. Kekayaan makna dalam sesaji ini
menggambarkan roda hidup, liku-liku dan naik turun kehidupan manusia dari lahir
hingga kematian.
Sebelum upacara pernikahan dilakukan, harus ada
prosesi yang dilakukan oleh pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Adapun tata
cara pernikahan adat Jawa adalah sebagai berikut:
1. Tahap
I (Tahap Pembicaraan)
Yaitu pemicaraan antara pihak keluarga calon
pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan, mulai
pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan menentukan hari pernikahan atau
gethok dina.
2. Tahap
II (Tahap Kesaksian)
Tahap ini merupakan tahap peneguhan pembicaraan yang
disaksikan oleh pihak ketiga, yaitu warga, kerabat atau para sesepuh yang ada
disekeliling tempat tinggalnya melalui acara-acara sebagai berikut:
a.
Srah-srahan
Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan untuk
melancarkan pelaksanaan acara sampai dengan hajat berakhir. Ada beberapa simbol
barang-barang yang mempunyai arti dan makna khusus seperti: cincin, seperangkat
busana putri, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, dan uang. Adapun
makna dari
simbol barang-barang itu adalah :
·Cincin emas
Cincin emas berbentuk bulat yang tiada putusnya. Hal
itu mempunyai makna agar cinta mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup.
Seperangkat busana putri
Barang ini mempunyai makna bahwa dimasing-masing
pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain.
Perhiasan yang terbuat dari emas, intan, dan berlian
Mengandung makna agar calon pengantin putri selalu
berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa.
Makanan tradisional
Makanan tradisional ini terdiri dari jadah, wajik,
dan jenang. Semua makanan tersebut terbuat dari beras ketan. Wujud beras ketan
sebelum dimasak hambur, tetapi setelah dimasak akan menjadi lengket. Begitu
juga harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin akan selalu
lengket selama-lamanya.
Buah-buahan
Bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan
buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.
·
Daun sirih
Muka dan punggung daun sirih mempunyai rupa yang
berbeda. Tetapi kalau digigit akan sama rasanya. Jadi, daun sirih ini mempunyai
makna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan.
b.
Peningset
Peningset adalah lambang kuatnya pembicaraan untuk
mewujudkan dua kesatuan yang ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon
pengantin.
c. Asok
tukon
Yaitu penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk
membantu meringankan keuangan kepada keluarga calon pengantin perempuan.
d. Gethok
dina
Menetapkan kepastian untuk pelaksanaan ijab qobul
dan acara resepsi. Untuk mencari hari, tanggal, dan bulan biasanya dimantakan
saran oleh orang yang ahli dalam perhitungan Jawa.
3. Tahap
III (Tahap Siaga)
Pada tahap ini, yang punya hajat akan mengundang
para sesepuh ataupun sanak saudara untuk membentuk panitia guna melaksanakan
kegiatan acara-acara sebelum pernikahan, acara pernikahan, dan sesudah acara
pernikahan. Ada beberapa acara dalam tahap siaga ini, yaitu:
a)
Sedhahan
Yaitu acara mulai merakit hingga membagi undangan.
b)
Kumbakarna
Kumbakarna adalah pertemuaan membentuk panitia
hajatan mantu, dengan cara:
Pemberitahuan dan permohonan bantuan kepada sanak
saudara, keluarga, dan tetangga.
Adanya rincian program kerja untuk panitia dan para
pelaksana.
Mencukupi segala kerepotan dan keperluan selama
hajatan.
Pemberitahuan tentang pelaksanaan hajatanserta telah
selesainya pembuatan undangan.
c
)
Jenggolan atau jonggolan
Yaitu calon pengantin laki-laki melapor ke KUA. Tata
cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan. Artinya memberitahukan dan
melapor kepada pencatatan sipil bahwa akan ada acara hajatan pernikahan yang
dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.
4. Tahap
IV (Tahap Rangkaian Upacara)
Sebelum
pada acara pernikahan biasanya ada beberapa tata cara yang dilakukan oleh
masyarakat Jawa pada umumnya, yaitu:
a.
Pasang bleketepe dan tarub
Biasanya sehari sebelum acara pernikahan, pintu
gerbang di rumah calon pengantin perempuan dipasangi tarub dan bleketepe. Dan
dibuat gapura yang dihiasi dengan tanaman dan dedaunan yang mempunyai makna
simbolis.
Di kiri dan kanan gapura dipasangi pohon pisang yang
telang berbuah dan sudah matang. Hal itu mempunyai makna bahwa suami akan
menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan masyarakat. Seperti pohon pisang
yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungannya. Sepasang tebu
wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan merupakan simbol mantapnya kalbu,
pasangan ini akan membina dengan sepenuh hati keluarga mereka kelak. Cengkir
gadhing, buah kelapa kecil yang berwarna kuning ini mempunyai makna kencangnya
atau kuatnya pikiran baik, sehingga pasangan ini sungguh-sungguh terikat dalam
kehidupan bersama yang saling mencintai.
Berbagai macam dedaunan yang digunakan untuk
menghiasi tarub adalah beringin, mojokoro, alang-alang, dadap srep. Itu semua
merupakan harapan agar pasangan ini nantinya hidup dan tumbuh dalam keluarga
yang selalu selamat dan sejahtera.
Selain pemasangan hiasan berupa tumbuhan dan
dedaunan pada gapura tarub, anyaman daun kelapa yang biasa disebut bleketepe
digantungkan pada gapura tarub. Hal ini memunyai makna untuk mengusir segala
gangguan dan roh jahat serta menjadi pertanda bahwa di rumah ini ada acara
perkawinan.
Ada beberapa sesaji khusus sebelum pemasangan tarub
dan bleketepe. Sesaji tersebut terdiri dari: nasi tumperng, bermacam-macam
buah-buahan termasuk pisang dan kelapa, berbagai macam lauk pauk, kue, minuman,
bunga, jamu, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera. Sesaji tersebut
mempunyai makna agar mendapat berkah dari Tuhan dan restu dari para leluhur
serta untuk menolak godaan dari para makhluk jahat. Sesaji biasanya diletakkan
di tempa-tempat tertentu seperti: dapur, kamar mandi, pintu depan rumah,
bawah
tarub, jalan dekat rumah, dan lain-lain.
b. Kembar
mayang
Kembar mayang juga sering disebut dengan Kalpataru
Dewandaru, sebagai lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa
dipasang di panti atau asasana wiwara yang digunakan dalam acara panebusing
kembar mayang dan upacara panggih. Apabila acara sudah selesai, kembar mayang
akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu
ingat asal muasalnya.
c.
Pasang tuwuhan atau pasren
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan dipasang dipasang di
tempat duduk pengantin atau tempat pernikahan. Tuwuhan ini melambangkan isi
alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa.
Perkawinan Adat Jawa Tengah
Masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya akrab dengan
budaya leluhur, bila akan melaksanakan sebuah hajatan, biasanya tak akan lupa
menyediakan sesajen di berbagai tempat tertentu, khususnya di sekitar rumah.
Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa Tengah adalah
sebagai berikut:
Bersih Lahir Batin
Sebelum kedua mempelai terikat perkawinan, Sebelum
pesta perkawinan tradisonal ini dilangsungkan, keduanya harus dibersihkan
terlebih dahulu baik lahir maupun batin. Tujuannya agar kedua calon mempelai
benar-benar bersih dari segala hal dan siap menyongsong status sebagai suami
istri dalam keadaan bersih.
Midodareni
Midodareni adalah acara perkenalan dan silaturahmi
antar keluarga. Dari pihak pria dilakukan oleh sesepuh dan keluarga dekat
pengantin pria. Selain itu wakil orang tua pengantin pria juga dibekali dengan
bingkisan balasan sebagai tanda kasih sayang dari keluarga pengantin wanita.
Prosesi midodareni ini adalah awal dari rangkaian
pesta pernikahan tradisonal yang biasa dilakaukan di Jawa.
Upacara Injak Telur
Selanjutnya, Upacara dan Pesta Pernikahan
Tradisional ini dilanjutkan dengan Upacara Injak Telur. Acara ini mengandung
harapan bagi pengantin wanita untuk segera mempunyai keturunan, karena injak
telur ini identik dengan pecah wiji dadi. Telur ini juga mempunyai makna
sebagai keturunan yang akan lahir sebagai cinta kasih berdua. Kemudian
dilanjutkan mencuci kaki pengantin pria yang dilakukan oleh pengantin wanita
yang melambangkan kesetiaan istri pada suaminya.
Sikepan Sindur
Setelah acara injak telur selesai dilanjutkan dengan
sikepan sindur yang dilakukan oleh ibu pengantin wanita. Sindur ini akan
dibentangan pada kedua bahu mempelai. Adapun makna upacara ini mengandung
harapan bahwa dengan sinfur tersebut kelak keduanya akan semakin erat karena
dipersatukan dengan ibunda.
Sedangkan tugas ayah sebagai kepala rumah tangga
berjalan di muka sebagai pemandu anak mengikuti langkah terbaik dalam hidup
yang akan dijalani. Sang ayah bertugas sebagai penunjuk jalan kehidupan di masa
depan dan hal ini perlu dijadikan contoh bagi pasangan baru.
Acara Pangkuan
Acara pangkuan disebut juga dengan istilah timbang
bobot. Pada acara ini pengantin pria duduk di paha sebelah kanan dan pengantin
wanita duduk di paha sebelah kiri sang ayah pengantin wanita, yang kemudian
ditanya oleh sang ibu mana yang lebih berat dan dijawab sama berat
Pada saat ini sang ayah seakan-akan sedang menimbang
keduanya yaitu antara anak kandung dan menantu. Maknanya adalah bila kedua
mempelai sudah mempunyai keturunan akan memiliki kasih sayang kepada
putra-putrinya sebagaimana layaknya sang ayah memiliki kasih sayang yang sama
antara anak kandung dan anak menantu.
Kacar-Kucur
Tahap upacara panggih adalah kacar-kucur. Acara ini
melambangkan kesejahteraan dan tugas mencari nafkah dalam kehidupan berumah
tangga yang dilakukan dalam bentuk biji-bijian, beras kuning, uang recehan yang
semuanya diberikan kepada ibu. Begitu berat tugas suami dalam mencari nafkah,
begitu juga istri dalam mengelolanya. Meski begitu mereka tetap ingat kepada
orang tua mengingat perannya yang sangat besar dalam kehidupan seseorang.
Dahar Klimah | Dulang-dulangan
Acara selanjutnya adalah dahar klimah atau
dulang-dulangan. Acara ini cukup menarik dan seru karena kedua mempelai saling
menyuapi yang dilakukan sebanyak tiga kali dan dilanjutkan dengan minum air
putih.
Proses ini sebenarnya mengandung harapan agar kedua
mempelai senantiasa rukun, saling tolong menolong serta sepenanggungan dalam
menempuh hidup baru. Selain itu juga mengandung makna sebagai ungkapan saling
mencintai dan saling memperhatikan pada pasangan.
Titik Pitik
Setelah dahar klimah, upacara titik pitik pun
dilaksanakan. Yaitu saat besan datang untuk menyaksikan upacara sakral
tersebut. Dengan hadirnya besan berarti keluarga semakin berambah besar dan
menjadi satu kesatuan yang kuat sebagai keluarga.
Ngabekten | Sungkeman
Ngabekten biasa disebut dengan istilah sungkeman
atau menyembah. Sungkeman pertama ditujukan kepada orang tua yang diteruskan
kepada para sesepuh lainnya seperti nenek, kakek dan sebagainya.
Sungkeman ini dilakukan dengan penuh takzim dan
membuat suasana haru, karena pasangan muda ini sangat awam dalam menghadapi
persoalan kehidupan rumah tangga. Padahal sejak itu mereka harus melangkah
sendiri dan akan menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak. Oleh sebab itulah
bekal berupa doa restu merupakan hal yang sangat penting dan ditunggu-tunggu
oleh pasangan pengantin.
Prosesi prosesi tersebut diatas biasanya ada yang
dilakukan secara utuh artinya semua kegiatan upacara pernikahan adat tersebut
dilaksanakan semua, ada pula yang melaksanakan hanya beberapa bagian dari
prosesi tersebut diatas.
Semua prosesi tadi biasanya dilakukan sebelum pesta
perkawinan atau bersamaan dengan pesta pernikahan yang biasanya menggunakan
pesta pernikahan tradisional juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar